Calvinisme Dalam GBKP

Calvinisme Dalam GBKP


  1. GBKP sejak awal berdirinya beraliran Theologia calvinis, mengapa? karya penyelamatan Allah di tengah-tengah masyarakat karo diawali pada tanggal 18 April 1980 oleh Nederlands Zendelings Geneootschap (NZG) di Buluhawar-Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yang mewarisi tradisi/konfesi gereja di negeri Belanda (warisan Theologia Calvinisme).
  1. Penampakan ciri Theologia Calvinis dalam GBKP antara lain:
    • Theologia Kemuliaan Allah (Gloria Dei)

Calvin pertama-tama menekankan kemuliaan Allah (Gloria Dei) yang adalah tujuan utama segala-galanya. Tugas manusia satu-satunya adalah memuliakan Allah. GBKP sangat menekankan kemulaiaan Allah dalam pembinaan jemaat.

  • Alkitab

Alkitab adalah satu-satunya norma kebenaran (Sola Scriptura). Untuk memahami Alkitab harus dibantu oleh Roh Kudus, karena manusia yang ditebus Yesus, tetap dalam kondisi berdosa. Dalam memahami Alkitab, Yesus menjadi pusat (Kristoicentris). Dan semua kitab dalam Alkitab memiliki nilai yang sama. Karenanya tidak boleh ada diskriminasi kitab-kitab dalam  Alkitab.

  • Predestinasi

Allah sudah menetapkan siapa yang selamat. Tetapi orang kristen tidak perlu ragu-ragu karena mereka adalah orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Ada yang memang keras hati dan tidak mau bertobat. Orang tersebut telah ditetapkan mendapat hukuman yang abadi (dikeluarkan dari persekutuan jemaat). Dalam GBKP ada aturan disiplin Gereja.

  • Gereja

Gereja adalah ibu bagi orang percaya. Gereja merawat orang percaya karena orang tidak mungkin hidup tanpa perawatan. Gereja yang benar adalah:

  1. Firman Allah diberitakan secara benar dan Perjamuan Kudus dilayankan secara benar pula.
  2. Ada jabatan-jabatan gereja (Pendeta, pengajar, penatua, dan diaken) yang merawat orang-orang percaya.
  3. Gereja bersifat am (satu=esa), yang diatur secara presbitial sinodal (berjalan bersama-sama) di wilayah jemaat, klasis, sinode, oikumene/universal.
  • Ibadah
  1. Kotbah menjadi sentral dalam ibadah.
  2. Nyanyian jemaat sangat diperhatikan. Syair dan melodi harus memuliakan Allah. Jemaat yang menyanyi, bukan paduan suara. Ibadah bukan semacam festival atau konsep.
  3. Persembahan bukan korban tetapi ucapan syukur.
  4. Doa yang benar adalah Doa Bapa Kami yang diajar oleh Tuhan Yesus. Hindari doa yang panjang akan salah jadinya. GBKP tidak lupa berdoa untuk pengampunan dosa (merasa diri orang berdosa walau sebagai orang percaya).
    • Sakramen
  5. Sakramen hanya dua jenis yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.
  6. Sakramen adalah suatu tanda lahiriah untuk pengakuan iman dan kekuatan untuk menyatakan kasih.
  7. Sakramen menekankan makna (karena tanda lahiriah) dan bukan menekankan cara. Jadi bukan cara yang salah tetapi makna yang dapat salah. Karena itu tidak ada sakramen darurat (menjelang meninggal).
    • Kesalehan
  8. Calvinisme menekankan kesucian hidup/hidup baru. Hidup etis moralitas kristiani sangat diutamakan (walaupun ada semboyan sola fide-sola gratia=hanya oleh iman dan hanya oleh anugerah). Memang bukan untuk keselamatan (kita sudah selamat) tetapi untuk memuliakan Tuhan. Karena itu Calvinisme sangat menekankan sepuluh Hukum Taurat dan juga pentingnya peranan Tata Gereja.
  9. Kesalehan bukan terutama nampak di dalam ritus-ritus ibadah tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
    • Gereja dan Masyarakat
  10. Gereja dipanggil menjadi garam dan terang dunia. Karena itu gereja tidak dapat melepaskan tanggung jawab dalam hal sosial-politik, ekonomi dan sosial budaya.
  11. Gereja dipanggil menjadi Imamat Allah yang berarti bahwa semua pekerjaan (profesi) adalah panggilan Tuhan. Karena itu panggilan Imamat am harus menjadi gerakan jemaat.
    • Etos Kerja

Kerja adalah hakekat hidup. Karena itu kerja bukan beban. Manusia harus bekerja yang tidak bekerja, tidak patut makan. Jangan memberi bantuan kepada orang malas. Tapi bantulah orang menderita (bukan karena malas) sebelum mereka meminta pertolongan.

  1. Relevansi Calvinis dalam GBKP

3.1. Budaya Persidangan (Runggun)

Sistem presbiterial sinodal berarti segala sesuatu harus di musyawarahkan dulu (keputusan Persidangan) baru dilaksanakan. Dan ini sesuai sekali dengan Budaya Karo yang dalam pelaksanaan adat karo selalu harus dimusyawarahkan terlebih dahulu. Dan ini juga sejalan dengan tuntutan zaman akan terciptanya masyarakat yang demokratis. Calvinisme menekankan sistem demokrasi dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

  • Penerapan disiplin sangat diperlukan untuk mencapai kemajuan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung tinggi supermasi hukum. Demikianlah Calvinis sangat menekankan ketertiban/keteraturan. Dengan ciri kedisplinan ini, GBKP dapat menjadi contoh/pola panutan di tengah-tengah masyarakat.
  • Hidup Kudus dan Etos Kerja yang dihayati gereja Calvinis (termasuk GBKP) dapat melawan budaya instan (jalan pintas/gampangan) yang berkembang di zaman ini. Tradisi Calvinis menekankan kualitas iman dan kwalitas kehidupan warga jemaat dan warga masyarakat.
  1. Memang ada pergeseran nilai/ciri Calvinis itu sendiri dalam GBKP. Masalahnya apakah karena GBKP mengabaikan atau melupakannya atau tidak menyukainya lagi? GBKP memang harus terbuka dengan aliran-aliran Theologi lain. Tapi GBKP jangan kehilangan identitas/jati diri yang memang adalah bertumbuh dari aliran Calvinis dan Kekaroan. Theologi GBKP yang harus alkitabiah, tidak bisa mengabaikan calvinisme dan kekaroan ini dalam keterbukaannya akan aliran- aliran Theologia disekitarnya.

Pdt. Simon Tarigan, S.Th.

 Sekreteris Umum Moderamen GBKP 2010 – 2015

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kami sedang meningkatkan kualitas pelayanan kami, jangan sungkan untuk mencoba fitur chat botnya ya, Infoin kami ya supaya chat botnya semakin canggih. Selamat Mencoba