Surat Kepada Jemaat Laodikia // Kesungguhan Hati // Wahyu 3:14-22 // Pdt. Daud Sembiring

Surat Kepada Jemaat Laodikia // Kesungguhan Hati // Wahyu 3:14-22 // Pdt. Daud Sembiring

“Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas (Wahyu 3:15)

_____________________________________

Pesan Kristus kepada jemaat Laodikia jelas. Dia mau mereka dicirikan dengan kesungguhan hati. Dia lebih suka murid-Nya panas dalam pengabdian kepada-Nya atau sedingin es dalam permusuhan mereka ketimbang suam-suam kuku dalam ketidakpedulian mereka. Dia menganggap kelesuan memuakkan.

Hierapolis berseberangan dengan Laodika, dipisahkan dengan sungai Lycus, yang mata air panasnya mengalirkan air suam-suam kuku lewat tebing-tebing Laodikia. Kata sifat Laodicean dalam bahasa Inggris untuk menggambarkan orang-orang yang suam-suam kuku dalam agama, politik, atau apa pun. Jemaat di Laodikia mewakili gereja yang di luar dihormati namun hatinya tidak sungguh-sungguh, salah satu gereja yang nominal masa kini.

Ketika kiasan berubah menjadi pengemis telanjang, buta (17), kita bertanya-tanya apakah warga jemaat Laodika benar-benar Kristen. Lalu kiasan berubah lagi menjadi rumah kosong (20). Kristus berdiri di depan pintu, mengetuk, berbicara dan menanti. Ia akan masuk seperti janji-Nya, tidak hanya makan dengan kita, tapi menjadikan rumah itu milik-Nya. Inilah arti penting dari kesungguhan yang Kristus kehendaki dari kita.

Benar, gereja selalu khawatir dengan apa yang disebut “antusiasme”. John Wesley dan teman-temannya tahu persis tentang ini karena para uskup mengesampingkan mereka sebagai “orang-orang antusias”. Tapi antusiasme justru sifat dasar murid sejati Yesus. Ini bukanlah fanatisme yang merupakan semangat tanpa pengetahuan.

Kita telah melihat Tuhan yang sudah bangkit berkeliling, memeriksa dan mengawasi jemaat-jemaat-Nya. Dia menunjukkan dengan jelas tujuh ciri yang Dia ingin gereja-Nya nyatakan – kasih kepada-Nya, kesediaan untuk menderita bagi-Nya, kebenaran ajaran, kekudusan hidup, komitmen bermisi, yang dilengkapi ketulusan, dan kesungguhan hati dalam segala perkara.

 

Bacaan lanjut: Wahyu 3:14-22

 

Sumber: John Stott; Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kami sedang meningkatkan kualitas pelayanan kami, jangan sungkan untuk mencoba fitur chat botnya ya, Infoin kami ya supaya chat botnya semakin canggih. Selamat Mencoba