Surat Kepada Jemaat di Tiatira // Kekudusan // John Stott // Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab // Pdt. Daud Sembiring

Surat Kepada Jemaat di Tiatira // Kekudusan // John Stott // Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab // Pdt. Daud Sembiring

Surat Kepada Jemaat di Tiatira

Kekudusan

“AKu tahu pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama” (Why 2:19)

______________________________________________

Tiatira dikenal karena perdagangan ketimbang jasa politik. Prasasti-prasasti yang ditemukan para arkeolog mengungkapkan bahwa Tiatira membanggakan sejumlah serikat kerajinan. Ini menarik karena Lidia, salah satu petobat terkenaldi Filipi, berasal dari Tiatira. Lukas menggambarkanya sebagai “penjual kain ungu” (Kis. 16:14). Mungkinlah Lidia, setelah lahir baru di dalam Kristus Kembali ke Tiatira dan menjadi alat untuk mendirikan gereja di sana?

Di dalam surat-Nya, Yesus menekankan kekudusan sebagai ciri mendasar berikutnya dari suatu gereja teladan. Ia mengawali surat-Nya dengan sebuah pujian hangat karena Ia tahu kasih dan iman mereka, pelayanan dan ketekunan mereka. Inilah empat kebajikan yang sangat baik dan mencakup segitiga iman, pengharapan dan kasih. Patut juga diperhatikan, dibanding jemaat di Efesus yang telah merosot dari awal yang baik, jemaat di Tiatira sekarang sedang mengerjakan lebih daripada awalnya.

Namun sayangnya di taman yang baik itu rumpun beracun sedang bertumbuh. Berdampingan dengan kualitas-kualitas luhurnya, jemaat di Tiatira bersalah atas kompromi moral. Jemaat membiarkan seorang penjahat menyebut dirinya nabiah. Secara simbolis dinamai Izebel, bama permaisuri Raja Ahab. Ia menyesatkan Sebagian warga jemaat, menyakinkan mereka bahwa kemerdekaan Kristen mengijinkan orang Kristen berzina.

Yesus telah memanggil dia untuk bertobat, tapi ia tidak mau. Karena itu, penghakiman-Nya pasti akan jatuh kepadanya dan juga kepada para pengikutnya kecuali mereka bertobat dari perbuatan-perbuatannya.

Kekudusan diri dan kesamaan dengn Kristus adalah sifat-sifat dasar lainnya dari suatu gereja. Toleransi bukanlah kebajikan jika yang dibiarkan adalah Iblis. Allah masih tetap berfirman kepada umat-Nya, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”(1 Petrus 1:16, Imamat 19:2)

 

Bacaan lanjutan: Why 2:18-29.

 

Sumber: John Stott, Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kami sedang meningkatkan kualitas pelayanan kami, jangan sungkan untuk mencoba fitur chat botnya ya, Infoin kami ya supaya chat botnya semakin canggih. Selamat Mencoba