MENUJU TEOLOGI KONTEKSTUAL DI INDONESIA II Pdt. Eka Darmaputera II Pdt. Daud Sembiring

MENUJU TEOLOGI KONTEKSTUAL DI INDONESIA II Pdt. Eka Darmaputera II Pdt. Daud Sembiring

“MENUJU TEOLOGI KONTEKSTUAL DI INDONESIA”

Oleh: Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D

__________________________________________

 

Pemimpin-pemimpin jemaat dari gereja “arus tengah” (main stream) di Indonesia, dewasa ini berada dalam keadaan cemas dan resah. Tidak sedikit yang mulai kehilangan percaya diri. Banyak yang menjadi reaktif dan depensif. Lebih banyak lagi yang bingung dan panik, tak tahu persis harus berbuat apa dan bersikap bagaimana.

Dalam dasawarsa terakhir ini, amat terasa ada semacam “arus balik” yang kian lama kian menguat, mendalam, dan meluas. Mula-mula dalam bentuk Gerakan Pentakosta Baru atau yang lebih dikenal dengan Gerakan Kharismatik. Kemudian, gerakan yang menamakan diri Injili yang dengan sistematis, konsisten dan militan mempropagandakan konservatisme serta fundamentalisme.

Kecemasan itu wajar. Sebab gerakan ini menganut stategi proselitisme ke dalam. Artinya, beroperasi di kalangan orang-orang yang telah menjadi anggota gereja tertentu pada tingkat “grass root”. Lebih hebat lagi, secara amat terencana perhatian serta pendekatan khusus ditujukan kepada kelompok-kelompok warga gereja yang memang mempunyai nilai strategis yang besar: remaja, pemuda, mahasiswa, kelompok-kelompok profesi, usahawan dan tokoh-tokoh masyarakat.

Cara pendekatan yang amat memperhitungkan faktor psikologis, metode pembinaan yang tanpa terasa sebenarnya bersifat indoktrinisasi, serta mobilisasi anggota yang sangat terencana, telah menghasilkan penganut yang militan dan berdedikasi tinggi bahkan hampir fanatik.

Akibatnya memang segera terasa. Banyak pemimpin jemaat hanya bisa melongo melihat satu demi satu warga jemaat mereka (tokoh-tokoh pula) semakin berpaling bahkan menceburkan diri ke sana. Mereka tidak keluar. Banyak yang menjadi aktivis-aktivis yang amat giat. Namun lambat laun, oleh karena militansi mereka yang tinggi, ketegangan-ketegangan pun semakin kerap terjadi.

Tidak sedikit pimpinan jemaat demi mencegah ketegangan serta mempertahankan kedudukan, merasa tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengikuti arus balik itu. Sebab apa yang dapat ia lakukan, bila mulai dari anak-anak Sekolah Minggu, remaja, pemuda, mahasiswa serta tokoh-tokoh di jemaatnya, sebenarnya de facto telah terbina dari luar?

Apa yang dapat kita bayangkan akan terjadi kemudian? Sekarang ini gejala-gejala ketegangan serta polarisasi telah sama-sama tampak dalam dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah pada tingkat nasional. Di samping PGI ada PII. Di samping STT ada STTI. Di samping BPK Gunung Mulia ada sejumlah penerbit Kristen “Injili”. Dan seterusnya. Untuk sementara kita memang dapat mengatakan bahwa ketegangan dan polarisasi pada tingkat nasional belum sampai pada titik kritis yang serius.

Namun, menurut pengamatan saya, itu hanya akan bersifat sementara saja. Sebab pada tingkatan kedua, ketegangan dan polarisasi pada tingkat jemaat telah semakin kritis dan serius. Bila proses ini berlanjut, biasanya dengan percepatan yang berlipat ganda, fenomenon ini akan “menular” ke tingkat sinodal. Dan dari tingkat sinodal, gejala ini akan amat terasa dampaknya pada tingkat nasional. Apalagi kalau keadan ini kemudian secara sengaja dieksploitir dan dimanfaatkan oleh “pihak ketiga”.

Saya menyadari bahwa banyak orang merasa sungkan dan risih untuk mengungkapkan apa yang saya ungkapkan di atas. Para pemikir dan teolog Kristen di Indonesia menganggap gejala-gejala di atas terlampau kecil dan remeh untuk dipelajari dan dipikirkan secara serius. Sementara orang beranggapan bahwa gejala itu hanya ibarat “mode” yang “top” untuk sementara waktu, tapi akan reda dan lenyap dimakan waktu. Jadi, cukuplah ia dihadapi dengan beberapa langkah taktis.

Saya mempunyai pendapat  berbeda. Bagi saya masalah itu adalah masalah yang amat serius, dan harus dihadapi dengan serius juga. Ia tidak hanya akan menjadi masalah untuk waktu yang sekarang tetapi ia juga menyangkut masa depan. Bisa saja saya salah dalam pengamatan saya. Namun menurut kayakinan saya, masalah itu hanya dapat kita hadapi dengan serius apabila kita membicarakannya dengan terbuka. Tanpa rasa sungkan. Tanpa rasa risih.

Mengapa saya menganggap gejala-gejala yang saya sebutkan di atas sebagai sesuatu yang amat serius? Yang terutama adalah karena gejala itu membuktikan betapa rapuhnya dan betapa tipisnya penghayatan serta pemahaman teologis warga jemaat kita pada umumnya. Dan itu tidak lain berarti gagalnya pembinaan kita selama ini. Itulah yang membuat mereka begitu mudah berpaling kepada yang lain.

Dari sekian banyak wawancara yang saya lakukan, yang membuat mereka  berpaling ke tempat lain, menurut kesimpulan saya, oleh karena mereka memperolah “sesuatu” di sana. “Khotbah-khotbah yang menyangkut masalah praktis sehari-hari”, kata yang satu. “Nyanyian-nyanyiannya menggerakkan dan menggetarkan hati”, kata yang lain. “Suasananya akrab, hangat dan hidup, membuat saya betah,” kata pak A. “Saya baru tahu apa yang harus saya lakukan sebagai orang Kristen,” kata ibu B.

Warga jemaat itu mempunyai suatu kebutuhan. Mungkin mereka tak dapat merumuskannya, tetapi mereka merasakannya. Kebutuhan itu, rupa-rupanya tidak terpenuhi “di sini”. Kebutuhan itu baru mereka sadari setelah sedikit banyaknya terpenuhi “di sana”. Apakah gereja-gereja dimana mereka menjadi anggota lalu tak mempunyai arti sama sekali untuk mereka? O, tidak. Gereja masih mempunyai banyak arti. Namun bukan mengenai yang satu itu.

Sesunggunya bila kita mengamati lebih dalam, maka kebutuhan yang mereka rasakan, dengan istilah yang lebih mentereng, tidak lain dan tidak bukan adalah pokok pembicaraan kita : sebuah teologi yang kontekstual. Suatu pegangan yang jelas untuk melaksanakan kehidupan mereka sehari-hari. Suatu jawaban yang jelas bagi pertanyaan praktis mereka sehari-hari. Suatu petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam hidup mereka sehari-hari. Suatu suasana yang membatu menguatkan mereka dalam pergumulan sehari-hari.

Gereja-gereja kita telah banyak memberikan banyak hal bagi mereka. Tetapi rupa-rupanya tidak mengenai yang satu ini. Kita bukan tidaka membina mereka berteologia. Namun, rupa-rupanya teologia itu tidak terlampai relevan bagi kenyataan hidup mereka sehari-hari. Tidak kontekstual. Dan oleh karena itu tidak fungsional.

Pertanyaan yang sah yang dapat anda kemukakan adalah bila ternyata kebutuhan itu telah terpenuhi “di sana”, mengapa kita harus merasa gelisah dan menganggapnya sebagai masalah? Bukankah soalnya menjadi amat mudah; kita mencontoh saja apa yang telah berhasil dan di makana disana?! Justru di sinilah kita mendapatkan permasalahan kita yang paling mendasar dan potensi bahaya yang lebih besar. Sebab bila ada orang lapar, lalu memperolah makanan persoalan saya jauh dari selesai. “Persoalan saya adalah; apakah makanan yang diketemukan itu memang sehat untuk dimakan,” itu kata anak perempuan itu.

Eksodus teologi dan gerejawi besar-besaran yang kini tengah terjadi menurut keyakinan saya, barulah mengungkapkan persoalan yang ada. Tetapi ia belum memberikan alternatif jawaban apa-apa. Bahkan yang paling berbahaya adalah, oleh karena sementara orang mulai tergoda untuk menarik kesimpulan, bahwa itulah alternatifnya. Bahwa itulah “teologi kontekstual” yang kita cari selama ini. Buktinya warga jemaat kita menyukainya dan menarik banyak manfaat daripadanya.

Saya ingin mengajak anda mengamati duduk masalahnya secara lebih tajam. Menurut pengamatan saya, banyak warga jemaat menyukainya dan menarik manfaat bukanlah oleh karena ia merupakan alternatif yang tepat. Tetapi oleh karena tidak ada alternatif lain yang lebih baik. Jalan keluar dari kemelut ini dus, bukan menahbiskannya menjadi alternatif sah, tetapi mencari alternatif lain yang lebih tepat; menyajikan alternatif lain yang lebih baru.

Gerekan Pentaskosta baru atau Kharismatik memang secara gambling menunjukkan kemiskinan spiritualitas dalam kehidupan jemaat kita pada umumnya. Tetapi itu bukan merupakan alternatif terbaik bagi spiritualitas yang kita dambakan dan butuhkan. Gerakan fundamentalisme secara tragis telah menelanjangi kita untuk menyadari kerapuhan dan ketipisan kadar pemahanan teologi jemaat-jemaat kita pada umumnya. Ya, tapi janganlah mengatakan bahwa ialah alternatif yang selama ini kita cari-cari. Keduanya harus kita akui, telah mampu memenuhi kebutuhan tertentu. Pada tempatnyalah, bila itu kita hargai dengan pantas. Warga-warga jemaat kita yang lapar paling tidak menemukan sesuatu untuk dimakan.

Diombang-ambingkan oleh perubahan-perubahan cepat di masyarakat, banyak warga jemaat merasa memperoleh pegangan yang jelas. Namun, tanpa mempersoalkan apakah pegangan yang “jelas” berarti pula pegangan yang “benar”. Di dalam keadaan lapar dan haus akan spiritualitas yang hidup dan suasana persekutuan yang hangat, banyak jemaat menikmati yang mereka rindukan. Namun tanpa mempersoalkan, apakah yang “nikmat” dengan sendirinya juga berarti “tepat”.

Kita tidak berhak mempermasalahkan mereka oleh karena ini. Kitalah yang harus mempersoalkan apa yang mereka persoalkan. Namun jelas, bahwa apa yang paling salah, apabila kita bersikap reaktif dan defensive. Berusaha dengan berbagai cara, apakah itu taktis atau politis, hanya untuk mempertahankan diri. Berusaha agar kita dapat diterima sebagaimana kita ada sekarang. Tidak! Semua gejala itu lantang mengisyaratkan dan mensaratkan: kita harus berubah dan mengubah diri! Harus mampu menawarkan alternatif yang lebih baik.

Mengapa saya katakana, bahwa keduanya (Gerakan kharismatik dan fundamentalisme) bukan yang harus kita pilih? Ada banyak alasan. Namun alasan yang paling utama adalah, oleh karena pada dasarnya keduanya membuat orang berorientasi kepada diri sendiri. Keduanya hanya lebih menyuburkan ciri-ciri introvert, ekslusif, individualistis, dualistis dari tradisi teologi kita, yang justru harus kita atasi. Yang satu cenderung membuat orang asyik dengan kenikmatan rohani diri sendiri. Yang lain cenderung membuat orang menjadi picik karena terlampau mengagungkan kebenaran dan keunggulan diri sendiri.

Dengan itu, saya tidak hendak mengatakan bahwa arus tengah gereja kita berada dalam keadaan yang jauh lebih unggul dan baik. O, tidak sama sekali! Sekalipun di sana sini kesadaran-kesadaran baru muncul, pada umumnya toh harus kita katakan bahwa mengenai soal berorientasi pada diri sendiri keadaan gereja-gereja kita tidak akan lebih baik. Walaupun yang disini yang mendapatkan penekanan bukanlah pada masalah spiritualitas atau teologi, melainkan masalah institusi atau kelembagaan. Sedang mengenai teologi, tetap saja warisan-warisan teologi lama mencengkeram dengan amat kuatnya. Yaitu, teologia yang tak kurang introvert, eksklusif, individualitis dan dualitisnya.

Diatas telah saya kemukakan bahwa teologi yang fungsional adalah teologi yang kontekstual. Teologi yang terasing dari konteksnya adalah tidak akan mampu berfungsi. Ada pula yang mengatakan bahwa teologi yang hidup adalah teologi mengenai kehidupan. “A living theology is a theology of live”. Itu berarti ketika kehidupan berubah maka diperlukan pula suatu teologi yang baru. Sebab teologi yang benar-benar kontekstual senantiasa dinamis dan kreatif, peka dan cepat tanggap terhadap konteksnya.

Fundamentalisme justru menawarkan sesuatu yang lain sama sekali. Terhadap konteks yang berubah-ubah, ia tidak memberikan inspirasi untuk melakukan “aksi-aksi” yang baru, tetapi menganjurkan “reaksi” untuk mempertahankan yang lama. Ia menawarkan konservatisme dan sikap reaksioner. Teologi yang benar, kata mereka adalah universal, bukan yang kontekstual. Yang kebal terhadap perubahan, bukan yang peka terhadap peka terhadap perubahan.

Sepintas lalu, ia kedengaran menarik. Sebab siapakah yang tidak tertarik pada sikap yang tegar dan konsisten di tengah perubahan? Siapakah yang tidak tertarik kepada mereka yang katakana “asli” dan “murni” yang tidak akan pernah lekang oleh waktu? Tetapi ia menyesatkan. Sebab teologi yang universal, apalagi teologi kekal, itu sesungguhnya hanya ada dalam angan-angan. Teologi yang mengklaim diri sebagai amat universal, bila kita amati lebih dalam, sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah sekedar ideologi yang amat kondisional. Tidak ada teologi yang sepenuhnya universal. Yang ada hanya teologi yang kontekstual atau teologi yang tidak kontekstual. Teologi yang berfungsi sebab ia kontekstual atau teologi yang tidak berfungsi karena tidak kontekstual. Teologi yang mengklaim diri sebagai universal adalah teologi yang telah menghabiskan dirinya sendiri menjadi “kerygma”. Teologi yang melanggar kodratnya. Teologi yang telah menghianati fungsinya.

Apakah sebenarnya “teologi kontekstual” itu? Bagi saya, ia bukan hanya merupakan salah satu dari sekian banyak merek teologi yang pernah diperkenalkan orang. Bagi saya, “teologi kontekstual” adalah “teologi” itu sendiri. Artinya, teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakekatnya, teologi tidak lain dan tidak bukan adalah upaya untuk mempertemukan secara dialektis, kreatif serta eksistensial antara “teks” dengan “konteks”; antara “kerygma” yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual. Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman kristiani pada konteks ruang dan waktu yang tertentu.

Dengan demikian persoalan kita bukanlah perlu/tidaknya atah sah/tidaknya teologi kontekstual. Setiap teologi haruslah kontekstual. Persoalan kita juga bukan perlu/tidaknya “teks” dan “konteks” dalam berteologi. Teologi harus mempertimbangkan kedua-duanya. Persoalan kita adalah bagaimana mempertemukan keduanya, “teks” dan “konteks”. Ia merupakan persoalan, oleh karena amat tergantung kepada pemahaman kita mengenai hakekat “teks” dan “konteks” serta tempatnya di dalam teologi.

Baiklah kita berbicara mengenai “teks” atau dalam hal ini “kerygma”. Teologi selalu bertitik tolak dari sebuah asumsi dasar, yaitu: bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah yang berfirman, Allah yang menyatakan kehendak-Nya, sepanjang masa bagi seluruh umat manusia di mana saja. Firman dan kehendak-Nya itu adalah mengenai kebenaran dan keselamatan serta kesejahteraan manusia bahkan seluruh ciptaan. Firman dan kehendak-Nya itu berlaku kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Dan oleh karena itu, siapa pun yang mendambakan kebenaran, keselamatan dan kesejahteraan tidak dapat tidak harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan dan memberlakukan Firman serta kehendak Allah itu. Teologi bertolak dari keyakinan itu dan berfungsi untuk mencari serta merumuskan kehendak Allah yang menyelamatkan, menyejahterakan, serta merupakan norma kebenaran itu. Teologi yang benar harus dimulai di situ.

Namun ini baru permulaan. Ia belum merupakan teologi. Sebab apa? Sebab sekalipun benar kita meyakini bahwa Allah berkenan untuk menyatakan kehendak-Nya yang berlaku sahih di sepanjang masa, bagi siapa saja, dan di mana saja, persoalan yang terbesar adalah: mengenali dan kemudian merumuskan kehendak-Nya itu. Umat Kristiani percaya, bahwa untuk itu ia harus mulai dengan Alkitab. Sebab melalui Alkitab itulah, Allah berkenan untuk menyatakan kehendak-Nya yang kekal dan universal itu secara khusus. Itu berarti teologi harus dimulai dengan Alkitab. Ini jelas tidak salah. Teologi yang benar adalah teologi yang alkitabiah. Ya!

Namun persoalan tidak selesai sampai disitu. Sebaliknya persoalan sedang dimulai. Sebab di dalam Alkitab, apakah yang sebenarnya terjadi? Di sana, Allah berkenan menyatakan kehendak-Nya yang kekal dan universal itu melalui Tindakan-tindakan-Nya pada suatu konteks ruang dan waktu tertentu. Dan selalu begitu. Allah selalu bekerja di dalam dan melalui sejarah. Memperlajari Alkitab berarti berhadapan dengan pernyataan kehendak Allah universal itu melalui dan di dalam konteks tertentu. Allah selalu bekerja secara historis dan kontekstual. Itulah sebabnya “teks” itu selalu berada dalam “konteks”. Dan oleh karena itu, kita harus selalu berbicara mengenai “konteks”, bahkan juga ketika kita berbicara mengenai “teks”.

Persoalan menjadi lebih rumit apabila kita yakin bahwa Allah yang berfirman dan menyatakan kehendak-Nya terus menerus dalam setiap zaman. Bahwa Allah tidak berhenti berfirman setelah ia menyatakan kehendak-Nya melalui Alkitab. Di sinilah menurut keyakinan saya, kesalahan fatal dari fundamentalisme. Kesalahannya tidak terletak pada sikapnya yang amat memperhatikan Alkitab, melainkan pada sikapnya seolah-olah Allah berhenti berfirman di situ.

Teologi harus amat memperhatikan tradisi, justru karena itu. Kerena keyakinan kita, bahwa Allah terus menerus berfirman secara baru di setiap zaman. Tradisi adalah sumber kesaksian tentang upaya umat Kristiani untuk memahami kehendak Allah di sepanjang jaman. Persoalan yang ketiga adalah persoalan hermeneutis. Kita harus amat memperhatikan Alkitab. Kita memang harus amat memperhatikan tradisi. Tapi itu tidak cukup untuk berteologi. Masalah teologi adalah masalah hermeneutis.

Artinya, kita yakin bahwa ada kehendak Allah yang kekal dan universal. Kehendak Allah yang kekal dan universal itu sampai keapda kita melalui Alkitab dan tradisi. Tetapi di dalam Alkitab maupun di dalam tradisi, kehendak Allah yang kekal dan universal itu juga adalah kontekstual. Oleh karena itu, masalah kita adalah bagaimana memahami kehendak Allah yang telah sampai kepada kita melalui konteks yang lain itu, sehingga ia merupakan kehendak Allah yang benar-benar menyapa kita di dalam konteks kita, di sini dan sekarang ini. Masalah hermeneutis kita, bukanlah bagaimana mengangkat kita agar bisa berada dalam konteks yang “lain” itu dan mencari kehendak Allah di “sana”, tetapi justru bagaimana mengangkat “kerygma” itu dari konteksnya yang “lain” itu untuk hadir dalam konteks kita, hinc et nunc, di sini dan sekarang ini. Sebab itu, jelaslah, teologi yang kontekstual bukanlah merupakan masalah yang sederhana. Ia tidak sekedar menguliti “kerygma” dari konteksnya yang semula. Ini tidak mungkin dapat kita lakukan sebab tidak ada “kerygma” yang telanjang tanpa konteks, melayang-layang di ruang hampa.

Kerumitan pertama di dalam teologi kontekstual adalah bagaimana kita menghubungkan yang universal dan yang particular. Di sini, saya tidak mungkin dan tidak mampu memberikan jawaban. Para dogmatikus yang saya desak untuk sungguh-sungguh memecahkan masalah ini. Saya bukan seorang dogmatikus. Saya hanya mampu menunjukkan beberapa pokok persoalan.

Yang jelas-jelas salah adalah mereka yang tidak mau mengakui bahwa ada masalah di sini. Pada satu pihak, bahwa hanya mereka yang hanya mau memperhitungkan yang universal dan kemudian secara semena-mena mencangkokkan pada yang particular. Pada lain pihak, adalah mereka yang dengan semangat yang menggebu-gebu hanya memperhatikan yang particular dan mengabaikan dimensi yang universal. Ia salah, oleh karena Allah yang berfirman pada jaman ini tidak lain dan tidak bukan adalah Allah yang sama adalah Allah yang sama yang telah berfirman sepanjang jaman. Masalahnya amat konkrit. Di dalam upaya kontekstualisasi teologi, adalah sesuatu yang bersifat universal yang “non-negotiable”, tidak dapat ditawar-tawar? Bila ada, apakah itu? Dari mana kita tahu? Bagaimana kita mengetahuinya?

Contoh soal. Kita mengetahui bahwa doktrin Trinitas adalah suatu doktrin yang diperkembangkan dari kesaksian Alkitab menurut konteks alam pikiran orang Yunani. Pengalaman saya sebagai pendeta jemaat menunjukkan bahwa di dalam teks kelas katekisasi, ajaran mengenai Trinitas ini adalah salah satu pokok yang paling sulit dipahami oleh peserta. Ini dapat kita mengerti. Bukan saja oleh karena Islam, yang merupakan konteks religious yang paling kuat di dalam masyarakat kita, amat mempertanyakan ajaran mengenai Trinitas itu, tetapi konteks budaya serta alam pemikiran Indonesia memang amat sulit mencerna sesuatu dari alam pemikiran dan konteks budaya Yunani yang sama sekali berbeda. Masalahnya adalah, apa yang seharusnya terjadi di dalam proses kontekstualisasi mengenai doktrin Trinitas? Adakah sesuatu di dalam warisan ini yang pantang di ganggu gugat dan di tawar-tawar? Sehingga proses kontekstualisasi hanya boleh terjadi pada periferi yang bersifat “negotiable”? Bila ya, apakah yang “negotiable” dan “non-negotiable” itu? Apakah di sini pendekatan demitologisasi ala Bultmann bermanfaat? Tetapi bila tidak, apakah itu berarti bahwa proses kontekstualisasi, yang salah satu aspeknya adalah akulturasi, dapat kita katakana boleh berlangsung tanpa batas?

Menurut intuisi saya, kontekstualisasi tidak bertentangan dengan kayakinan bahwa ada sesuatu yang bersifat universal. Kontekstualisasi bukanlah subjektivisme dan relativisme kultural. Teologi kontekstual adalah teologi. Itu berarti pasti ada “core” atau identitas Kristiani yang berlaku secara universal. Dimana kit dapat mengatakan bila ia diubah maka seluruh identitas pun berubah pula. Ia tidak “Kristen”lagi. Teologi kontekstual lalu hanya merupakan kontekstualisasi bukan teologi. Ibarat sebuah bangunan yang sokogurunya dirubuhkan maka yang ada kemudian adalah bangunan yang samasekali lain.

Di dalam setiap upaya kontekstualisasi, persoalan fundamental yang pertama-tama harus dipecahkan adalah merumuskan apakah “core” yang menjadi sokoguru jati diri Kristiani. Ini bukanlah sesuatu yang mudah, namun mau tidak mau harus dikerjakan. Menurut pengamatan saya, upaya kontekstualiasi yang ada sekarang ini belum ada yang berhasil memuaskan di sini. Ada yang melangkah terlalu jauh, sehingga kita dapat mempertanyakan apakah ia masih bisa disebut sebagai teologi “Kristen”. Ada yang masih malu-malu dan ragu-ragu sehingga kita dapat mempertanyakan apakah ini benar-benar “kontekstual”.

Saya tidak mengatakan bahwa “kerygma” harus dipahami secara statis. Sama sekali tidak. Yang harus terjadi dalam teologi kontekstual adalah proses yang dinamis dan dialektis. Di sini konteks berusaha dipahami secara baru dibawah terang kerygma. Tetapi juga sebaliknya; kerygma berusaha dipahami secara baru di dalam kerangka konteks. Namun yang harus menjadi batu uji bagi hasil proses yang dinamis dan dialektis itu adalah: apakah di samping ia benar-benar kontekstual ia juga benar-benar Kristiani. Tentu saja, saya bukanlah orang yang mampu berikan jawaban. Tetapi mungkin dengan meminjam dari sosiologi, saya dapat menawarkan semacam peta perjalanan.

Di dalam sosiologi agama kita mengetahui bahwa “core” dari semua agama dan itu berarti jati diri dari masing-masing agama terdiri dari tiga hal; mitos, ritus dan etika. Tidak ada agama yang tidak mempunyai hal ini. Isi dari ketiga hal itu menentukan identitas agama yang bersangkutan. Di dalam lingkungan kristiani secara sederhana barangkali kita dapat mengganti istilah “mitos” dengan “dogma”, “ritus” dengan “liturgi”, dan “etika” jelas bagi kita semua. “mitos” mewakili dimensi kognitif yang ada pada suatu system religious. “Ritus” mewakili dimensi ekspresif. Dan “etika” mewakili dimensi praktis. Ketiganya memeng berdiri sendiri-sendiri dan mempunyai fungsinya masing-masing. Namun demikian, mereka juga berpaut erat satu dengan yang lain. “Ritus” misalnya berfungsi mengekspresikan apa yang dipercaya dalam “mitos”. Dan “etika” mempraktekkannya di tengah kehidupan nyata sehari-hari para penganutnya. Apabila di dalam kenyataan, “ritus” menjadi kering dan tak lagi dihayati maka simbolisnya atau apabila “etika” menjadi sama sekali tidak relevan di dalam menghayati kenyataan hidup sehari-hari maka itu berarti bahwa “mitos” tak lagi dapat dipertahankan- ia harus diperbaharui.

Ada dua hal yang perlu saya kemukakan berhungan denga itu. Pertama, teologia kontekstual haruslah merupakan upaya kontekstualisasi seluruh sisten religious; ya dimensi kognitifnya, ya dimensi ekspresifnya, ya dimensi praktisnya. Di dalam praktek di Indonesia, ini rupa-rupanya masih belum terlampau disadari. Ada yang secara secuplik-cuplik hanya menekankan dimensi ekspresifnya. Misalnya dengan memasukkan gamelan atau wayang dalam kehidupan liturgis gereja. Dibanyak konsultasi oikumenis, kontekstualiasi pada dimensi praktis lebih menonjol. Kita berbicara tentang partisipasi dalam revolusi atau kini partisipasi dalam pembangunan. Ada pula yang menekankan bahwa kontekstualisasi terutama harus terjadi dalam dimensi kognitif. Teologia kontekstual sering dimengerti sebagai upaya merumuskan teologia baru. Semua itu tidak salah. Tetapi tidak cukup. Kontekstualisasi yang sepotong-sepotong akan menciptakan kepincangan-kepincangan yang kacau dan membingungkan. Dan sebabnya adalah oleh karena inter-relasi serta inter-aksi dari ketiga dimensi itu diabaikan.

Kesimpulan yang hendak saya kemukanan adalah teologia kontekstual harus diupayakan secara inter-disipliner. Ia tidak hanya merupakan tugas para dogmatikus saja tetapi juga para etikus dan para ahli teologia praktika secara bersama-sama. Dan di situ, kita juga akan melihat peranan vital para ahli biblika dan historika.

Itu baru bila kita berbicara mengenai disiplin-disiplin dalam ilmu teologi. Bila aspek “konteksnya” hendak kita tekankan maka jelaslah maka kita membutuhkan uluran tangan para ahli sosilogi, politik, ekonomi, tehnologi dan seterusnya. Yang kedua yang ingin saya katakana adalah ini. Salah satu tugas pokok yang pertama-tama dari para ahli teologi itu adalah secara bersama-sama berusaha merumuskan apakah “core” yang menentukan jati diri kristiani. Di sini misalnya dapat digumuli dan dirumuskan secara bersama-sama, apakah “core” dari jati diri kristiani yang menyangkut mitos, ritus dan etika. Oleh karena sedikit banyak bidang yang saya kuasi adalah etika. Saya ambil contoh; core yang menentukan jati diri kristiani di dalam etika pasti adalah kasih. Artinya, teologi kontekstual apapun yang berhasil dirumuskan apabila tidak mencerminkan etika kasih, ia tidak dapat disebut Kristen. Tugas selanjutnya adalah berusaha memahami dan merumuskan makna “kasih” itu di dalam konteks Alkitab, tradisi dan praktek kehidupan bergereja di Indonesia untuk mempertemukan secara dinamis, dialektis serta eksistensial dengan pemahaman kasih di dalam konteks Indonesia dana arti yang seluas-luasnya.

Hasil dari proses tersebut kemudian kita uji dengan dua batu uji yaitu “ortodoksi” dan batu uji “relevansi”. Batu uju ortodoksi adalah untuk menilai apakah hasil pergumulan itu masih dapat kita sebut “Kristen”. Batu uji relevansi adalah untuk menilai apakah pergumulan itu cukup fungsional bagi konteks Indonesia sekarang ini serta masa depan yang dapat kita perhitungkan. Yang penting untuk di catat di sini adalah bahwa yang saya maksudkan dengan “relevan” bukanlah sekedar sesuatu yang mempunyai nilai teknis pragmatis. Sebab bila nilai teknis pragmatis saja menjadi ukuran, ia dapat menjerumuskan kita kepada sikap oportunisme yang tanpa prinsip. Tidak! Yang saya maksud dengan “relevan” di sini adalah sesuatu yang dapat mendukung fungsi kristiani kita sebagai nabi, imam dan raja di tengah-tengah konteks masyarakat Indonesia sekarang dan di masa depan. Relevan berarti sesuatu yang memungkinkan kita untuk bersikap positif, kritis, kreatif dan realistis di tengah keprihatinan dan pengharapan kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara dengan tetap setia kepada iman kristiani kita.

Di dalam bagian yang terakhir ini, saya mau mengemukanan konteks apa saja yang perlu kita perhitungkan di dalam upaya menciptakan teologia yang kontekstual di Indonesia. Hal yang perlu saya kemukanan, oleh karena apabila kita mengamati teologi-teologi kontekstual yang diupayakan dibagian dunia yang lain, maka secara kasar kita dapat melihat dua macam tipe.

Tipe pertama, yaitu teologi kontekstual yang umumnya diperkembangkan di Barat ialah teologi yang amat menekankan konteks sosial, politik dan ekonomi. Secara sederhana, ini misalnya dapat kita amati sebagai ciri dari teologia pembebasan, Teologi Hitam, Teologi Feminis. Tipe yang kedua yaitu, teologi kontekstual yang umumnya diperkembangkan oleh pemikir-pemikir Asia, ialah teologi yang amat menekankan konteks budaya. Secara sederhan ini misalnya dapat kita amati dalam pemikiran Choan Seng Song, Koyama, dan beberapa pemikir dari India dan Korea.

Tipologi diatas saya akui, memang amat kasar. Ia dapat diperdebatkan. Tetapi pokok yang ingin saya kemukakan adalah apabila kita berusaha untuk menciptakan teologi kontekstual di Indonesia, konteks manakah yang perlu mendapatkan penekanan: konteks warisan-warisan kultural tradisional atau tangan-tangan modern? Dengan perkataan lain, teologi kontekstual di Indonesia haruslah berorientasi pada “identitas” atau “modernitas”.

Ruangan tidak memungkinkan saya untuk memberikan pembahasan yang panjang lebar. Tapi cukuplah bila saya menekankan bahwa untuk Indonesia kedua aspek itu, baik “identitas” maupun “modernitas” harus mendapat perhatian yang sama besar, bahkan juga interaksi yang dinamis antara keduanya. Alasan saya sederhana. Teologi yang tidak memperhitungkan budaya merupakan teologi yang tidak berakar, teologi yang terasing dari alam pemikiran dan system nilai yang ada. Ia tidak akan fungsional. Tetapi keberatan saya terhadap teologi yang hanya memperhatikan dan memperhitungkan factor kultur saja ialah asumsi bahwa system nilai dan budaya tradisional itu hanya untuk kita langgengkan semata-mata. Kita lalu tidak bisa bersikap kritis terhadapnya. Teologi yang kehilangan fungsi kritisnya tak akan mampu berfungsi sebagai teologi. Ada alasan yang kedua. Sikap kritis kita terhadap system nilai dan budaya tradisional, juga bersumber pada kenyataan lain yaitu aspirasi masyarakat akan modernitas. Aspirasi yang tidak mungkin kita abaikan, apabila kita ingin benar-benar kontekstual.

Sebaliknya teologi yang hanya memperhatikan aspek ekonomi, sosial, politik, apalagi jika itu kita dasarkan pada konsep-konsep Barat, juga akan  menjadi teologi yang asing. Oleh karena itu tidak berlebihanlah dan bukan hanya sekedar basa-basi, apabila saya mengemukakan bahwa teologi kontekstual di Indonesia adalah teologi yang harus kita perkembangkan di dalam konteks dan kerangka Pencasila. Sebab di dalam Pancasila-lah sebagai bangsa kita telah menemukan kristalisasi dari interaksi yang dinamis atara identitas dan modernitas.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kami sedang meningkatkan kualitas pelayanan kami, jangan sungkan untuk mencoba fitur chat botnya ya, Infoin kami ya supaya chat botnya semakin canggih. Selamat Mencoba