Kecerdasan Spiritual II Andar Ismail II Selamat Berkembang II Pdt. Daud Sembiring

Kecerdasan Spiritual II Andar Ismail II Selamat Berkembang II Pdt. Daud Sembiring

Kecerdasan Spiritual 

_________________________

Beberapa orang mahasiswa memasuki ruang ibadah. Ada seorang yang langsung bersikap khidmat. Selama setengah jam menantikan dimulainya ibadah, ia duduk dengan teduh. Ia tidak menoleh ke kiri dan ke kanan. Pikirannya tidak teralih kesana sini. Ia berkonsentrasi. Ia berkontemplasi. Ketika teman-temannya berbisik-bisik, ia tidak menghiraukannya. Pikirannya bagaikan terhanyut dalam ketermenungan. Orang ini bisa bersaat teduh. Ia mempunyai kehalusan perasaan religius.

Sebenarnya kata religius kurang tepat untuk menggambarkan perasaan itu, sebab perasaan itu belum tentu berhubungan dengan religi atau agama. Istilah yang lebih tepat adalah spiritual. Oleh karena itu, kita berbicara tentang kecerdasan spiritual atau lebih tepat, ketajaman spiritual.

Ketajaman spiritual tidak identik tentang kesalehan. Orang yang saleh menjalankan ajaran agama dengan sungguh dan taat. Padahal orang dengan ketajaman spiritual belum tentu seperti itu. Ia tidak lebih suci daripada teman-temannya. Hidupnya biasa-biasa saja. Namun perasaannya lebih halus terhadap hal-hal yang rohani. Di kamarnya ia bisa duduk khusuk seorang diri selama satu jam menyimak sebuah syair rohani. Ia suka berdiam diri dan termenung tentang misteri yang Ilahi.

Ketajaman spiritual juga tidak identik dengan beriman atau bertawakal (berserah atau mempercayakan diri secara penuh) kepada Tuhan. Orang yang tajam spiritual bisa mudah bimbang atau gelisah. Ia belum tentu tabah. Ia belum tentu kuat iman.

Ketajaman spiritual pun bukan fanatisme agama. Orang yang tajam spiritualnya bukanlah orang yang hyper-religius yang menjalankan keberagamaannya secara berlebihan, fanatik, atau ekstrim. Salahuddin Wahid, Ketua Nahdatul Ulama, dalam artikel “Memadukan Ibadah Ritual dengan Ibadah Sosial” menulis, “Orang yang cerdas spiritual bisa saja bukan orang yang beragama. Dan, orang yang beragama tidak selalu mempunyai kecerdasan spiritual. Orang yang fanatik pada agama/mazhabnya lalu membabi buta menyerang agama/mashab lain adalah orang yang tidak mempunyai kecerdasan spiritual. Orang yang membunuh ratusan orang tidak bersalah dengan dalih membela agama, dia pasti bukan orang yang cerdas spiritual.”

Ketajaman spiritual pun bukan monopoli rohaniawan. Seorang montir mobil atau tukang listrik yang tidak tahu apa-apa tentang teologi, bisa saja mempunyai ketajaman spiritual yang lebih tinggi daripada seorang rohaniawan atau dosen teologi.

Orang yang tajam spiritual adalah orang  yang mempunyai bakat cita rasa rohani. Riak getaran hatinya peka terhadap hal-hal rohani. Ia mudah tergetar oleh misteri kehadiran Yang Ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika melihat sekuntum bunga, ia terpaku dengan rasa kagum dan berpikir: “O, begitu halusnya tangan Tuhan. Ketika langit senja berwarna lembayung, ia terpesona memandangi lapisan awan merah jingga dan berpikir; Bukan main bagusnya keagungan Tuhan. Cita rasa yang membakat dalam dirinya membuat ia mampu melihat apa yang tidak kelihatan dibalik sekuntum bunga atau iringan awan tadi. Cita rasa spiritualnya membuat dia ingin memasuki dunia misteri rohani di balik dunia nyata ragawi. Karena itu, ia banyak bertanya. Lalu ia sendiri menjawab. Dengan begitu, ia tenggelam dalam releksi. Ia berimajinasi dan berkontemplasi.

Dalam ketermenungannya itu kadang-kadang ia merasa begitu akrab dengan Yang Ilahi. Ia menghayati pemazmur yang mengaku “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1), Lalu ia merasa bagaikan seorang anak domba kecil yang dipangku, dipeluk dan dielus-elus dengan penuh sayang oleh Sang Gembala. Namun, di pihak lain, kadang-kadang ia merasa gentar kepada Tuhan. Ia merasa bagaikan Musa yang “menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Tuhan” (Kel. 3:6b).

Ketajaman atau kehalusan spiritual adalah getaran hati yang membuat kita merasa akrab, namun serentak juga merasa gentar kepada Tuhan. Tuhan terasa dekat, namun serentak jauh. Tuhan adalah immanen (= yang tinggal dan menetap) dengan kita, namun serantak adalah transenden (= misteri yang menggetarkan atau menakutkan), namun serentak sebagai mysterium fascinosum (misteri yang menggetarkan atau menarik).

Ketajaman spiritual adalah kehalusan indra terhadap misteri kedekatan dan kejauhan atau misteri ke-sini-an dan ke-sana-an Tuhan. Harper’s Encyclopedia of Religous Education merumuskannya sebagai “Sense of relatedness to that which is beyond the self yet approachable”.

Ketajaman spiritual adalah kehalusan yang bisa merasakan getaran kehadiran Yang Ilahi di tengah kelopak-kelopak harum bunga melati, di dalam semburan lava letusan gunung merapi, di balik keriput senyum eyang putri, di pinggir kata-kata puisi, di antara bunyi kicauan burung merpati, di bawah kegelapan kubur orang mati dan diatas ketinggian langit yang paling tinggi.

Ketajaman spiritual adalah kehalusan yang membuat kita membaca secara rohani, baik membaca buku rohani maupun membaca sekuler atau bahkan surat kabar sekalipun. membaca secara rohani berbeda dari membaca yang sekedar mencari tahu atau menambah informasi. Membaca secara rohani adalah membaca dengan iman yang bertanya, “Apakah perasaan Kristus jika ia membaca halaman ini? Apakah sabda Kristus kepadaku yang sedang membaca halaman ini?” Ketajaman spiritual adalah kehalusan perasaan yang bisa merasakan kehangatan Tubuh Kristus yang duduk di sebelah kita dan ikut membaca apa yang sedang kita baca.

 

Andar Ismail, Selamat Berkembang,

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kami sedang meningkatkan kualitas pelayanan kami, jangan sungkan untuk mencoba fitur chat botnya ya, Infoin kami ya supaya chat botnya semakin canggih. Selamat Mencoba